Mungkin tidak sedikit dari kita yang sudah mendengar berita yang sangat menyedihkan belakangan ini, tentang sekeluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan kedua anak laki-laki teenager nya yang diduga dibunuh dan bunuh diri di waktu yang bersamaan. Berita ini juga mengusik saya secara pribadi dan membuat saya terus berefleksi mengapa hal ini bisa terjadi.

Saya tidak hendak mengajukan teori ataupun dugaan mengenai berita yang masih simpang siur ini, tetapi berita ini mengingatkan saya bahwa, seseorang bisa saja terlihat sangat kuat di luar, namun lemah di dalam. Begitu pula dengan saya. Secara pribadi, belakangan ini saya tidak puas dengan perjalanan karir saya. Saya sedih dan mengeluh. Namun, saya tidak pernah membagikan hal ini di media sosial, misalnya di LinkedIn saya. Di LinkedIn, bisa jadi orang melihat karir saya begitu brilian, namun bagi saya, tidak demikian.

Perbedaan mengenai apa yang ditampilkan di luar dibandingkan dengan apa yang sebenarnya terjadi ini, membawa saya kembali kepada pengalaman di waktu saya akhirnya berhasil mengatasi adiksi saya.

Beberapa tahun lalu, saya tidak ingat kapan pastinya, saya pernah terikat kepada menonton adegan romantis yang berujung kepada hubungan seksual. Saya ingat bahwa saya semakin mudah jatuh terutama ketika saya merasa kesepian. Dalam kondisi ini, saya tanpa sadar bisa menghabiskan beberapa jam sehari untuk menonton adegan-adegan seperti ini.

Singkat cerita, waktu itu di kelompok sel saya di komunitas, topik pembelajaran kami adalah pembebasan dari adiksi, dan puji Tuhan, di masa-masa itulah saya berhasil menyerahkan adiksi saya kepada Tuhan dan bebas sepenuhnya, perlahan-lahan. Langkah yang saya ambil adalah dengan “being vulnerable”. Kami diajak untuk mengakukan dosa keterikatan ini, kepada teman-teman sel kami, selain di ruang pengakuan dosa. Looking back, mungkin yang juga menginspirasi saya untuk berani terbuka adalah karena gembala komunitas kami dan juga gembala sel sudah memberikan contoh terlebih dahulu, bahwa mereka juga bisa dan mau terbuka kepada teman-teman selnya atau bahkan teman komunitas.

Keterbukaan mengenai kelemahan ini seakan menjadi praktek nyata tentang apa yang dituliskan di kitab Efesus tentang membawa sesuatu kepada “terang”. Eph 5:13 “But everything exposed by the light becomes visible—and everything that is illuminated becomes a light.” Dengan “pengakuan” inilah dosa dibawa kepada terang dan akhirnya bisa diatasi.

Saya rasa juga hal inilah yang dulu Paulus lakukan. 2 Cor 2:9-10But he said to me, “My grace is sufficient for you, for my power is made perfect in weakness.” Therefore I will boast all the more gladly about my weaknesses, so that Christ’s power may rest on me. That is why, for Christ’s sake, I delight in weaknesses, in insults, in hardships, in persecutions, in difficulties. For when I am weak, then I am strong.

Melalui kisah saya dibebaskan melalui jalan “membawa ke terang” dosa dan kelemahan saya, saya ingin mengajak teman-teman untuk mempertimbangkan melakukan hal ini di kelompok sel, ataupun ke kelompok lebih kecil yang teman-teman percayai, tentunya yang seiman. Saya percaya bahwa dengan membawa ke terang ke kelompok yang tepat, kita bisa saling mendoakan, dan saling menginspirasi satu sama lain. Saya berdoa untuk “pembebasan” kita bersama-sama dari hari ke hari.
(LGA)

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *