Musim panas kali ini sangat aneh, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu panas. Tahun ini ada kalanya turun hujan meskipun hanya rintik-rintik, tetapi setelah hujan panasnya sungguh luar biasa. Kadang seminggu panasnya sangat menyengat dan bisa mencapai kisaran 30-an derajat, kadang bisa sejuk sekitar pertengahan 20-an.

Akhir tahun kemarin, saya memutuskan untuk mulai menanam satu pot pohon cabai rawit, seperti yang dulu pernah saya lakukan. Tujuannya agar bisa swasembada menanam cabai karena memang harga cabai rawit saat ini tidaklah murah. Dulu, dari satu pohon saya bisa mendapatkan hampir satu kilo cabai. Tidak hanya itu, pohonnya pun mulai bertunas. Berawal dari satu pohon hingga menjadi tiga pohon, sehingga saat itu pasokan cabai saya seakan tidak ada habisnya.

Menanam cabai tidaklah sesulit yang orang-orang pikirkan. Yang penting sering disiram dan tidak terlalu diekspos ke matahari. Namun, pada bulan Januari kemarin saat cuaca sedang panas-panasnya, saya sempat lupa menyiram pohon cabai tersebut selama empat hari. Selain sibuk mengurus rumah, saya juga harus mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk untuk studi saya. Hanya dalam waktu empat hari, pohon cabai itu mulai mengering daun dan batangnya. Padahal, pada salah satu batangnya sudah mulai berbunga, dan nantinya bunga itulah yang akan bertumbuh menjadi cabai.

Saat melihat pohon itu, saya merasa bersalah dan sedih. Seandainya saja saya tidak lupa menyiraminya, bunga itu pasti akan bertumbuh menjadi cabai. Namun, saya tidak menyerah dan memutuskan untuk berbuat sesuatu bagi pohon itu. Saya menyiraminya setiap pagi dan sore, mengeksposnya secukupnya ke sinar matahari, serta menambahkan pupuk ke dalam potnya.

Akhirnya, sebulan kemudian saya bisa melihat bahwa ranting yang sudah mengering dan bunga yang tadinya layu, perlahan tumbuh menjadi cabai meskipun batangnya masih berwarna cokelat kering. Di sini saya merasa ditegur dan diingatkan akan kehidupan iman dan hati kita. Saat kita tidak menerima air kehidupan dan menjauh dari Sang Pemilik kehidupan, hidup kita akan sama seperti pohon tadi: kering dan akhirnya mati. Namun, saat kita terus mencari air kehidupan dan Sang Pemilik kehidupan, hidup kita yang tadinya kering dan hampir mati dapat disegarkan kembali bahkan berbuah.

Marilah setiap hari kita terus memiliki rasa lapar dan haus akan firman Tuhan. Selalu sempatkan waktu untuk mencari Tuhan di tengah kesibukan kita, supaya kehidupan kita senantiasa memancarkan terang-Nya.

Mzm 1:1-3Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. (ANT)

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *