Kami sedang dalam proses pindah ke rumah kedua kami. Ada cerita dan doa di dalam perpindahan ini. Suatu waktu di hari Minggu, suami dan saya sudah memutuskan untuk menawar sebuah rumah. Kami sudah mantap dan sudah menuliskan semua draft tawaran rumah dan segala kondisinya. Kami cuman menunggu supaya hari Senin kami mau memastikan urusan mortgage lancar dan berencana memberikan kertas offer ke agent di senin siang.
Tanpa diduga, saya kepikiran tentang suatu hal di rumah itu di malam hari, sampai saya terbangun jam setengah 12 malam. Waktu itu, suami saya sedang tugas di rural area, jadi dia sedang tinggal di rumah dinas dan tidak di rumah. Saya coba menelpon HP nya. Satu kali… Tidak diangkat. Dua kali… juga tidak ada jawaban. Saya sudah berpikir, kalau sampai yang ketiga tidak diangkat, saya coba kembali tidur saja lah. Eh ternyata, dia mengangkat telepon saya. Kami berdiskusi sampai satu jam di tengah malam sebelum akhirnya kembali tidur.
Senin paginya, saya ngobrol dengan suami saya. Saya bilang ke dia, sebenarnya dipikir-pikir, tidak ada yang salah kok dengan rumah itu. Mungkin hanya perasaan saya saja. Namun, suami saya meneguhkan, karena kami juga setiap hari berdoa, mestinya peristiwa saya tidak bisa tidur karena kepikiran itu juga merupakan bukti Tuhan yang mencoba berbicara pada kami.
Pagi yang sama, kami tergerak untuk mempertimbangkan rumah satu lagi yang sebenernya kami lihat juga di hari yang sama dengan rumah yang tadinya akan kami tawar itu. Sebenarnya, ketika berbicara soal rumah di hari sebelumnya, kakak saya lebih mendukung kami ke rumah yang ini. Kami ikut mendengarkan masukannya, karena mama saya akan tinggal dengan saya, dan mama juga akan chip in beberapa persen untuk membeli rumah ini dengan uang tabungan nya dan almarhum papa saya.
Singkat cerita, hati kami malah mantap dengan rumah ini, karena memang ukuran tanahnya 1.5 kali rumah yang tidak jadi kami tawar itu. Di hari berikutnya, kami mendapatkan kabar kalau seller rumah nya mau counter offer. Kami berusaha mencari tahu ada berapa yang menawar sehingga kami juga menyiapkan beberapa skenario angka tawaran kami. Selasa sore, kami mendapatkan telepon jam 4 sore, kalau owner mau di harga sekian, yang ternyata jumlahnya sedikit lebih rendah dari tawaran yang sudah kami siapkan. Jam 5 kami tanda tangan, dan deal terjadi.
Mungkin bagi beberapa teman, ini hal kecil soal menawar rumah, namun bagi kami ini peristiwa yang sangat bermakna bagi kami. Melalui masukan dari kakak kami, kami merasakan peristiwa ini seperti kehadiran almarhum papa, yang dulu selalu menceramahi kami untuk membeli rumah dengan tanah yang lebih luas, karena latar belakangnya yang orang sipil. Lucunya juga, rumah ini nomor 11, sama seperti nomor rumah pertama ketika saya lahir.
Lucunya lagi, kami masih dalam doa 54 hari novena Rosario kami, dan hari Senin ketika kami menawar rumah tersebut, merupakan hari kami memulai hari pertama 27 hari peristiwa syukur kami, yang memang kebetulan salah satu intensi kami adalah soal rumah.
Philippians 4:6-7 “Do not be anxious about anything, but in everything by prayer and supplication with thanksgiving, let your requests be made known to God. And the peace of God, which surpasses all understanding, will guard your hearts and your minds in Christ Jesus.”
(LGA)
No responses yet