Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Sabtu, 18 Juli 2026
Mi 2:1-5
Mzm 10:1-4,7-8,14
Mat 12:14-21
Tetap Berharga
Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. – Mat 12:20
Dalam usia yang semakin lanjut, ketika langkah tidak lagi sekuat dulu, saya sering berdiam diri dan merenungkan perjalanan hidup. Karya-karya yang pernah dibuat, pelayanan yang pernah dijalani, semuanya hadir kembali dalam ingatan. Namun, di balik itu, terselip rasa luka dan kecewa. Seolah-olah kehadiran saya tidak lagi dianggap, tidak lagi disapa oleh generasi muda dalam gereja. Hati ini kadang merasa seperti batang yang terkulai atau sumbu yang pudar nyalanya.
Namun, di tengah perasaan itu, saya teringat akan kelembutan Yesus Kristus. Ia datang bukan untuk menghakimi, bukan pula untuk mematahkan yang lemah. Ia justru menopang dengan penuh kasih dan membisikkan harapan: “Aku tidak akan mematahkan engkau. Aku tetap percaya padamu. Aku datang untuk menyelamatkanmu.”
Tuhan tidak pernah menjauh saat kita lemah. Ia hadir justru ketika kita merasa jatuh, sedih, dan kecewa. Ia menguatkan dan meniupkan kembali semangat hidup dalam hati kita. Dalam setiap perayaan Ekaristi, meskipun saya duduk di bagian belakang, saya menemukan ruang untuk merenung: apa yang telah saya lakukan bagi gereja, dan apa yang masih bisa saya lakukan?
Mungkin tenaga sudah terbatas, tetapi doa tetap menjadi kekuatan yang tak tergantikan. Dalam keheningan, dalam doa yang sederhana, Tuhan tetap berkarya melalui kita. Bahkan dari hati yang terluka, Tuhan mampu menghadirkan kasih-Nya bagi sesama.
Karena itu, marilah kita tidak berhenti berharap. Di sekitar kita selalu ada orang yang juga sedang terkulai, yang membutuhkan perhatian dan penghiburan. Mungkin melalui sapaan, doa, atau kunjungan sederhana, kita bisa menjadi saluran kasih Tuhan. Selama kita masih hidup, kita tetap berharga di mata Tuhan. Ia terus berkarya melalui kita, sekecil apa pun yang dapat kita lakukan. (Ld).
Di tengah keterbatasanku, apakah aku masih percaya bahwa Tuhan tetap berkarya melalui hidupku?
No responses yet