Renungan Katolik “Bahasa Kasih”

Rabu, 19 Agustus 2026

Yeh 34:1-11

Mzm 23:1-6

Mat 20:1-16a

Iri Hati 

Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? – Mat 20:15

Bacaan hari ini mengingatkan kita akan bahaya iri hati yang sering tersembunyi dalam hati manusia. Tanpa disadari, kita mudah membandingkan diri dengan orang lain, membandingkan berkat, keberhasilan, bahkan pelayanan. Ketika melihat orang lain menerima lebih, hati kita bisa mulai gelisah, kecewa, bahkan merasa tidak adil.

Melalui sabda ini, Yesus Kristus mengajarkan bahwa Allah bertindak menurut kasih dan kebaikan-Nya, bukan berdasarkan ukuran manusia. Keselamatan dan berkat adalah anugerah, bukan upah semata. Karena itu, kita diajak untuk belajar bersyukur, bukan membandingkan diri.

Iri hati dapat merusak hati kita. Orang yang dikuasai iri hati cenderung hanya melihat kekurangan orang lain, sulit melihat kebaikan, dan kehilangan sukacita. Bahkan dalam kehidupan menggereja, sikap ini bisa muncul melalui kata-kata, sikap, atau bahkan senyum yang tidak tulus. Hati yang iri sulit merasakan damai, karena selalu merasa kurang.

Sebaliknya, Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kasih. Ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, kita akan lebih mudah bersyukur atas apa yang kita miliki dan turut bersukacita atas berkat orang lain. Kasih  Allah memampukan kita untuk melihat sesama bukan sebagai saingan, tetapi sebagai saudara yang sama-sama dikasihi Tuhan.

Karena itu, marilah kita belajar membersihkan hati dari iri hati. Mintalah rahmat Tuhan agar kita memiliki hati yang tulus, penuh syukur, dan mampu mengasihi tanpa syarat. Dengan demikian, hidup kita akan dipenuhi damai sejahtera, dan kita semakin dekat dengan Allah yang murah hati. Amin. (Ld).

Apakah aku sungguh bersyukur atas berkat yang Tuhan berikan, atau diam-diam membandingkannya dengan milik orang lain?

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *