Deployment saya sudah dimulai tanggal 8 September kemarin. Setelah break selama 3 bulan, rasanya susah sekali untuk memotivasi diri untuk berangkat kerja lagi. Mungkin karena sudah terlalu keenakan tinggal di rumah selama itu.
Tetapi saya merasa bahwa ini juga merupakan bagian dari rencana Tuhan. Tuhan mengizinkan saya tinggal di rumah selama 3 bulan, dan sekarang waktunya bagi saya untuk kembali berangkat kerja lagi.
Sebelum penerbangan ke Darwin, saya berdoa di dalam pesawat supaya Tuhan melindungi perjalanan saya dan juga selama deployment nanti. Saya berdoa supaya sukacita boleh terus ada di dalam hati saya, dan supaya saya bisa membawa kemuliaan bagi Tuhan melalui pekerjaan saya.
Hari pertama saya lalui dengan sukacita. Hari kedua, ketiga, dan keempat juga sama. Tetapi ketika tiba hari kelima, saya mulai merasa kurang enak badan. Semuanya dimulai dari tenggorokan yang sakit. Setelah menemui dokter yang ada di kapal, akhirnya saya divonis menderita Influenza A.
Saat itu dokter juga mengatakan bahwa sebelum saya menemuinya, ada satu orang yang datang dengan keluhan yang sama dan ternyata juga menderita Influenza A. Mulai hari Minggu itu, saya dan orang tersebut harus tinggal di dalam cabin supaya virusnya tidak menular ke seluruh kapal.
Satu hari, dua hari, tiga hari, sampai hari keenam, saya masih dalam confinement. Saya mulai berpikir dalam hati, “Kenapa deployment baru saja dimulai, kok sudah ada kejadian seperti ini?” Rasanya seperti awal yang buruk untuk deployment kali ini.
Tetapi kemudian saya teringat ayat dari Amsal 3:5-6 “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Dari ayat itu, saya diingatkan bahwa apa yang saya pikirkan belum tentu sama dengan apa yang Tuhan pikirkan. Ternyata, memang Tuhan sudah mengatur semuanya untuk sesuatu yang terbaik.
Selama berada dalam confinement, saya mendapatkan email bahwa posisi yang saya inginkan akan di re-advertise lagi. Dengan berada di dalam confinement, saya justru punya banyak waktu untuk memperbaiki resume saya dan memolesnya supaya lebih baik lagi. Saya juga bisa mengikuti live streaming funeral ayah dari salah satu anak sel saya.
Kemudian, karena sudah memasuki bulan September, saya juga harus mulai mempersiapkan Personal Development Agreement yang setiap tahun harus direview. Saya pun punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya. Selain itu, saya juga bisa mengerjakan online learning yang sudah hampir due.
Kalau tidak ada kejadian ini, sudah pasti saya akan sangat sibuk, apalagi kami harus melatih 11 orang recruits baru. Tetapi selama saya berada dalam confinement, tugas tersebut akhirnya diambil alih oleh orang lain.
Awalnya saya melihat confinement ini sebagai sesuatu yang buruk, bahkan merasa bahwa deployment saya dimulai dengan cara yang tidak baik. Tetapi sekarang saya bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Mungkin ini bukan sesuatu yang menghambat rencana saya. Mungkin justru Tuhan sedang memberikan saya waktu untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih besar. Sayapun hanya bisa berkata “How great are Your plans and Your thoughts, Lord!”
“Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya pikiran-pikiran-Mu!” (Mazmur 92:6)
(ANT)

No responses yet