Masa Prapaskah kali ini terasa berbeda bagi saya. Hari-hari terasa sangat bisa ditebak. Bangun pagi, bermain dengan anak, pergi bekerja, pulang, kembali bersama anak dan istri, lalu tidur. Besoknya, pola yang sama kembali terulang.
Di tengah rutinitas itu, jujur ada perasaan jenuh. Kadang saya teringat masa ketika masih single bagaimana rasanya lebih bebas melakukan banyak hal, lebih spontan, lebih banyak ruang untuk diri sendiri. Sekarang hidup diisi oleh tanggung jawab terhadap keluarga. Saya tahu ini adalah panggilan yang indah, tetapi rasa lelah itu tetap nyata.
Dalam minggu ini saya menemukan sebuah istilah dalam tradisi Gereja yaitu “Acedia”, yang aslinya berasal dari Bahasa Latin dan Yunani.
Dari Cathecism of the Catholic Church (CCC) 2094 dikutip “acedia or spiritual sloth goes so far as to refuse the joy that comes from God”. Acedia disebut sebagai salah satu penyakit rohani yang akut.
Acedia bukan sekadar rasa malas. Bahkan sering kali orang yang mengalami acedia tetap terlihat sibuk. Aktivitas tetap berjalan, pekerjaan tetap dilakukan, tanggung jawab tetap dipenuhi. Namun di dalam hati, ada sesuatu yang memudar.
Acedia adalah ketika seorang merasa kehilangan gairah dan cinta terhadap hal-hal yang sebenarnya paling penting dalam hidup. Seseorang yang mengalaminya bisa mulai mencari hal-hal yang sekadar menarik atau menyenangkan untuk mengisi kekosongan itu, tetapi bukan hal yang benar-benar memberi makna. Di kasus saya, rutinitas yang seharusnya menjadi tempat saya mengasihi perlahan terasa seperti daftar tugas yang harus diselesaikan.
Di masa Prapaskah kali ini, Tuhan mengajak saya untuk offer up all the little things in life for Him. Mulai dari bangun pagi untuk keluarga, bekerja dengan setia, hadir bagi Silvia dan Giorgio, bahkan di saat menggendong anak yang sudah semakin berat dan melelahkan, I offer it to the Lord’s passion.
Tidak hanya itu, saya terus belajar setia setiap hari meskipun harus melalui rutinitas yang sama berkali-kali. Hidup memang bukan ledakan-ledakan besar yang menarik, tapi tentang menemukan Tuhan dalam setiap hal yang kita kerjakan.
Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. (Mazmur 73:25-26) (IVO)
No responses yet