Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Selasa, 1 April 2025

Yeh 47:1-9,12
Mzm 46:2-3,5-6,8-9
Yoh 5:1-3a,5-16

Buanglah Tilammu

“Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu.” Akan tetapi ia menjawab mereka: “Orang yang telah menyembuhkan aku, Dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah. – Yoh 5:10-11

Tilam adalah sarana dimana orang lumpuh tersebut bertimpuh selama dalam kelumpuhannya. Jika kita refleksikan bersama, tilam dapat kita maknai sebagai tumpuan-tumpuan hidup yang melandasi kehidupan seseorang yang mengalami lumpuh dan mati secara rohani karena kebiasaan dan gaya hidup yang melandasi cara hidup orang tersebut.

Pengalaman saya seusai mengikuti retret hidup baru dalam roh pada masa itu adalah hati saya begitu berkobar dan bergelora merasakan antusias yang luar biasa terhadap perjumpaan pribadi dengan Allah. Rasanya saya tidak ingin keluar dari suasana tersebut. Kemudian, sejak saat itu saya berjanji terhadap diri saya sendiri dan kepada Tuhan untuk merubah cara hidup saya secara signifikan, misalnya lebih rutin melakukan saat teduh, membaca firman, mulai tekun ikut persekutuan doa ataupun menyambut Ekaristi dengan lebih sungguh-sungguh dan menjaga agar apa yang keluar dari mulut saya sebisa mungkin dapat memberkati orang lain. Komitmen yang saya bangun dan lakukan tersebut memberikan dampak yang lebih positif terhadap hidup saya hari demi hari hingga saat ini. Ini merupakan perjalanan pertobatan saya yang akan berlangsung seumur hidup dengan jatuh bangun yang akan saya alami sampai kelak Tuhan mengakhiri perjuangan saya di dunia ini.

Perjalanan pertobatan kita dimulai dengan meninggalkan cara hidup yang lama (mengangkat tilam dan membuangnya), kemudian berjalan ke arah Tuhan dengan menggunakan cara hidup yang baru sekalipun hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang dalam prosesnya. Setiap orang pun akan mengalami proses yang berbeda-beda dengan lama waktu yang berbeda-beda pula. Perjalanan pertobatan untuk mengalami perjumpaan dengan Allah harus terus diperjuangkan dengan sekuat tenaga apapun tantangan yang akan menghambat didepannya. Artinya kita tak boleh putus asa dan berhenti di tengah jalan dalam perjuangan untuk bersatu dengan-Nya. (In).

Sudahkan saya mengangkat tilam saya, dan membuangnya, kemudian berjalan menuju ke arah Tuhan Yesus dengan sungguh?

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *