Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Selasa, 20 Januari 2026
1 Sam 16:1-13
Mzm 89:20-22,27-28
Mrk 2:23-28
Boleh vs Tidak Boleh
Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” – Mrk 2:27
Ada seseorang yang berkata, “Kalau ke gereja harus mandi dulu dan memakai baju bersih, kalau tidak, maka sia-sia kamu ke gereja.” Ada pula yang mengingatkan kalau berdoa di patung Pieta harus memegang patungnya supaya doanya manjur. Ada lagi yang berkata bahwa dengan memegang jubah romo saat adorasi maka kesembuhan akan terjadi. Ingat bahwa jika itu hanya sebatas ritual yang bila dilakukan tanpa iman pada Yesus maka akan jatuh pada mistisisme.
Saya harus menbangun iman setiap hari, bukan terkadang percaya dan terkadang tidak dengan kebenaran-Nya. Dan iman juga bukan karena apa kata orang. Membangun keintiman dengan Tuhan bukan hanya kewajiban semata. Merenungkan sabda Tuhan untuk mengenal kebenaran-Nya, kerinduan untuk mengenal Yesus dan kebenaran-Nya harus lebih utama dibandingkan dengan berfokus pada tradisi.
”Tidak semua orang mendengarkan Sabda Allah dengan kemauan besar. Alasannya terletak pada fakta bahwa ajaran Kristus tidak menjadi melodi pujian. Ia tidak menyanjung para pendosa dan tidak menjanjikan barang-barang duniawi. Sebaliknya ajaran Kristus memberikan peringatan yang keras kepada kita, serta mengajarkan untuk mengendalikan kedagingan dan mengabaikan dunia.” Itulah yang dikatakan oleh St. Antonius Padua.
Maka melakukan perintah Tuhan harus saya utamakan. Saya perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, apakah yang kulakukan telah sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan? Adakah nama Tuhan dimuliakan melalui setiap tindakanku? Adakah damai sejahtera saat melakukannya? Jika semua yang kulakukan sesuai dengan kebenaran-Nya maka seharusnya menghasilkan buah-buah Roh. Jadi bukan lagi boleh atau tidak boleh yang jadi pertanyaan, tetapi apakah yang kulakukan sudah sesuai dengan ajaran Yesus dan menyenangkan hati-Nya? (TL).
Apakah aku lebih berfokus pada kebiasaan ataupun tradisi dalam mengikuti Yesus ataukah Yesus menjadi Sang Sumber Utama yang kucari?
No responses yet