Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Senin, 23 Maret 2026
Dan 13:1-9,15-17,19-30,33-62
Mzm 23:1-6
Yoh 8:1-11
Kena Batunya
Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. – Yoh 8:9
Kiasan tentang “kena batunya” ingin menunjukkan bagaimana orang yang berniat jahat justru mendapat balasan setimpal dari itikad buruk perkataan atau perilakunya. Gambaran tersebut bisa kita temukan dalam kisah pada bacaan Injil hari ini. Para ahli Taurat dan orang Farisi “kena batunya” ketika ingin menjebak Yesus dengan aturan hukum Taurat dalam perkara seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
Seorang tetangga saya, sebut saja namanya Ibu X, yang pada masa itu kelihatannya juga mengalami apa yang disebut “kena batunya”. Ibu X adalah tipe orang yang gampang menelan “mentah-mentah” sebuah info, ditambah lagi karakter beliau yang mudah terpengaruh stigma yang belum tentu seratus persen benar. Stigma terhadap orang atau suku tertentu. Dalam keseharian pergaulan dan percakapan kerap terlintas perkataan atau sikap beliau yang suka mendiskreditkan orang dengan latar belakang suku tertentu. Karakter Ibu X membuat warga atau banyak orang di lingkungan sudah mafhum bahwa beliau sangat apriori terhadap suku tertentu. Dan tak disangka, pada akhirnya putri dari Ibu X ternyata menikah dengan seorang pria yang berasal dari suku yang selama ini tak ia sukai.
Saudara terkasih, mungkin sudah saatnya kita menelisik batin kita. Jangan-jangan kita selama ini mudah berprasangka terhadap orang lain. Gampang menghakimi orang lain, atau bahkan merasa diri paling suci dan selalu benar. Harusnya kita bisa berintrospeksi bahwa jangan sampai justru kita yang juga berdosa dan melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang kadang kita tuduhkan ke orang lain. (BS).
Tuhan, jadikan kami agar selalu setia dalam iman kepada-Mu.
Semoga kami sebagai orang berdosa juga bisa selalu berpasrah kepada-Mu tanpa perlu berprasangka serta menghakimi sesama kami.
No responses yet