Renungan Katolik “Bahasa Kasih”

Sabtu, 29 November 2025

Dan 7:15-27

MT Dan 3:82-87

Luk 21:34-36

Perangkap

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan- kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat . – Luk 21:34

Di kampung halamannya, suami saya senang memelihara hewan peliharaan seperti angsa, ayam, bebek, ikan juga burung. Ketika hewan peliharaan tersebut bertelur, seringkali telur maupun anak ayam atau angsa tiba-tiba ditemukan mati karena serangan hewan buas. Namun setelah diperhatikan dan diselidiki biang keroknya adalah tikus, karena anak angsa yang sudah di dalam kandang pun jadi korban. Karena badannya elastis, tikus mampu menyelinap masuk ke dalam kandang. 

Akhirnya suami memasang perangkap tikus dengan umpan ikan asin. Tak perlu waktu lama, baru semalam dipasang paginya sudah mendapat beberapa ekor tikus yang besar-besar. 

Di dunia ini juga ada banyak perangkap yang dipasang iblis untuk membuat manusia jatuh ke dalam dosa dan terpisah dari Tuhan. Seringkali kita tidak menyadari kita masuk ke dalam perangkap karena di dalamnya tersedia umpan yang enak dan nyaman bagi daging. Di jaman ini umpan yang kerap menggoda dan membuat kita tidak sadar kita sudah masuk perangkap si jahat adalah kehidupan yang hedon, berpusat pada diri sendiri (ini hidupku yang penting saya tidak merugikan orang lain, namun tidak peka terhadap kebutuhan sesama yang sedang menderita atau susah), sibuk dengan dunianya sendiri di dunia maya tapi tidak peduli dengan orang yang ada di disekitarnya di dunia nyata apalagi ingat pada Tuhan.

Lewat bacaan hari ini kita diingatkan agar menjaga hidup kudus, dengan peka terhadap perangkap dunia yang enak dan nyaman untuk daging namun ujungnya membawa kematian. Dunia sudah semakin duniawi, manusia semakin tidak peduli, perang makin sering terjadi dimana-mana dan meluas. Jangan pernah abaikan peringatan-Nya. Pastikan kita selalu siap sedia, kapan pun waktu-Nya Dia nyatakan kita selesai di dunia ini. (Yy).

Peringatan sudah semakin sering, masihkah kita mengeraskan hati dan menganggap semuanya tak berarti dan biasa saja?

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *