Seperti biasa, saat prapaskah kami sekeluarga pasti pergi mengikuti second rite of reconciliation. Acara tersebut diadakan minggu lalu di salah satu paroki dekat rumah kami. Ada delapan romo yang disiapkan untuk acara tersebut.

Saat itu, saya tidak terlalu pusing memilih romo mana yang akan saya datangi untuk pengakuan dosa. Namun, yang saya rasakan ketika masuk ke dalam gereja, saya seperti didorong untuk duduk di bangku bagian belakang. Bangku tersebut ternyata adalah antrean untuk Romo Anthony. Beliau biasanya tidak terlalu sering memberikan kata-kata nasihat, sehingga antreannya selalu cepat.

Ketika tiba giliran saya untuk mengakui dosa-dosa saya, ada satu hal yang masih saya pergumulkan, yaitu berbagi masalah atau pergumulan yang saya alami, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun pekerjaan. Saya sering merasa tidak perlu membebani istri saya, karena dia juga memiliki masalahnya sendiri. Namun akibatnya, saya justru sering menjadi mudah marah ketika anak-anak bertengkar atau saat istri terlalu banyak bertanya.

Saya menceritakan semua itu kepada romo. Lalu beliau bertanya, “Apakah kamu selalu menceritakan masalahmu kepada Tuhan?” Saya menjawab, “Ya.” Kemudian beliau bertanya lagi, “Saat kamu akan marah, apakah kamu berhenti dan meminta Tuhan untuk mengambil alih amarahmu?” Saya menjawab, “Tidak juga.”

Beliau kemudian berkata, “Yang harus kamu lakukan saat akan marah adalah berhenti dan meminta Tuhan untuk mengambil rasa marah itu. Kamu tahu bahwa manusia itu lemah, tetapi Tuhan dapat melakukan hal-hal yang kita tidak bisa lakukan. Libatkan Tuhan dalam setiap keputusan yang akan kamu ambil. Mau marah atau tidak, libatkan Tuhan terlebih dahulu.”

Di situ saya merasa tertegur. Beliau yang biasanya tidak banyak berkata-kata, tetapi saat itu sepertinya Tuhan sendiri yang berbicara melalui beliau untuk mengingatkan saya agar bisa terus terbuka kepada istri dan juga menahan amarah. Tidak ada hal yang remeh di mata Tuhan, asalkan kita mau terbuka dan melibatkan Dia dalam setiap hal.

“Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah. Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Yak 1:19-20 (ANT)

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *