Beberapa tahun lalu, saya terlibat sebagai panitia retret dan dipercaya menjadi koordinator doa. Saat itu dunia sedang berada di masa yang tidak mudah, sekitar pandemi Covid, dan secara pribadi saya juga sedang berada dalam fase kekeringan rohani yang amat sangat. Saya tetap berdoa, tetap melayani, tetap percaya bahwa Tuhan mengasihi saya, tetapi jujur saya sulit merasakannya.
Dalam retret tersebut, kami menyediakan ruang adorasi yang selalu terbuka, serta satu sesi Adorasi Puncak pada Sabtu malam di main hall. Karena Adorasi dilakukan di ruangan yang berbeda, monstran sering dipindahkan. Monstran yang kami pinjam menggunakan lunette (tempat peletakan hosti) yang cukup mudah terlepas. Setelahnya kami baru tahu kalau jenis monstran yang kami pakai bukan tipe yang sebaiknya sering dipindahkan atau dibawa berkelililing.
Pada Sabtu malam itu, saya bertugas membantu Romo Moderator membawa monstran dari ruang adorasi menuju main hall. Baru saja monstran diangkat, lunettenya terlepas dan jatuh ke lantai. Dengan sigap, Romo segera mengangkatnya dan memasangnya kembali. Kami melanjutkan langkah. Romo benar-benar memegang Monstran dengan erat dan berjalan perlahan.
Namun belum jauh berjalan, lunette itu jatuh untuk kedua kalinya. Hati saya mulai gelisah takut apabila lunette itu pecah. Hingga akhirnya bsberapa langkah sebelum pintu main hall, lunette itu jatuh untuk ketiga kalinya.
Di titik itu, saya merasa Tuhan menyapa saya dengan sangat lembut namun jelas.
“Aku jatuh tiga kali dan tetap melanjutkan jalan menuju Salib. Aku tidak akan pernah berhenti mencari kamu dan mengasihi kamu.”
Sepanjang Adorasi malam itu, saya dipulihkan. Air mata saya menetes deras. Saya mengalami kembali rasanya dikasihi Tuhan dengan kasih yang sempurna melalui kejadian yang sangat unik dan personal. Bukan sebuah kebetulan saya yang ditugaskan mendampingi Romo memindahkan monstran malam itu.
Kejadian malam itu membuat saya kembali penuh dengan sukacita. Saya tetap pernah mengalami kekeringan setelahnya, tapi saya selalu teringat akan kasih Tuhan yang tidak pernah berhenti menjangkau kita.
“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku.” (Yes 49:15-16)
(IVO)
No responses yet