Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Selasa, 5 Mei 2026
Kis 14:19-28
Mzm 145:10-13,21
Yoh 14:27-31a
Kasih Allah
Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku.
– Yoh 14:28
Kata berpisah hampir selalu identik dengan kesedihan. Setiap perpisahan membawa luka dan air mata, meski alasan di baliknya berbeda-beda. Namun, iman mengajak kita untuk melihat perpisahan bukan hanya dari sisi kehilangan. Rasul Paulus mengingatkan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya(Roma 8:28). Pertanyaannya, mampukah kita percaya bahwa di balik setiap perpisahan, ada rencana kasih Allah yang sedang dipersiapkan bagi kita?
Dalam pesan perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya bahwa mereka seharusnya bersukacita karena Ia kembali kepada Bapa. Bagi para murid, kata-kata ini tentu tidak mudah diterima. Mereka masih ingin Yesus tinggal bersama mereka. Namun Yesus mengajak mereka untuk melihat lebih jauh.
Sering kali, kesedihan dalam perpisahan muncul karena kita terlalu berfokus pada diri sendiri. Kita merasa memiliki orang-orang yang kita cintai, seolah-olah merekalah sumber kebahagiaan kita sepenuhnya. Tanpa disadari, rasa memiliki itu dapat berubah menjadi keegoisan; seorang anak pergi untuk menempuh pendidikan demi masa depan yang lebih baik. Seorang pasangan harus bekerja jauh demi kesejahteraan keluarga. Seorang cucu kembali ke sekolah untuk bertumbuh. Bahkan ketika pasangan hidup dipanggil kembali kepada Bapa, itu bukanlah akhir, melainkan awal dari sukacita abadi yang Allah janjikan.
Rasa memiliki sering membuat kita sulit melepaskan. Kita ingin mempertahankan kenyamanan dan kebahagiaan kita sendiri. Namun iman mengajak kita untuk percaya: Allah selalu memberi yang terbaik. Ketika kita sungguh mengasihi, kita belajar merelakan, sambil percaya bahwa kasih Allah menyertai setiap perpisahan dengan harapan dan sukacita. (An).
Apakah saya menyadari bahwa orang-orang yang ada disekitar saya adalah milik Allah?
No responses yet