Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Rabu, 1 Juli 2026
Am 5:14-15,21-24
Mzm 50:7-13,16-17
Mat 8:28-34
Dibongkar
“… merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka. “ – Mat 8:34b
Seorang wanita Indonesia, konten kreator yang pernah menerima beasiswa dari negaranya sendiri berbangga anaknya mendapatkan paspor warga negara Inggris. Ia mendadak viral dengan kata- katanya,”Cukup saya saja yang WNI, anak saya jangan!” yang auto mengundang hujatan seantero dunia, khususnya warga negara Indonesia sendiri. Dampaknya merembet pada suaminya yang juga menerima beasiswa dari pemerintah Indonesia, bahwa ia belum menyelesaikan kontraknya dengan negara. Akhirnya mereka mendapatkan sanksi dan masuk daftar hitam di pemerintahan Indonesia. Mereka pun diminta mengembalikan biaya yang sudah didapatkan selama study beserta bunga-bunganya. Komentar yang muncul dalam benak saya adalah: “Banyak bicara sih, coba diam-diam saja, jadi aman.”
Injil hari ini menceritakan tentang orang yang terbelenggu oleh setan, berteriak ketakutan dan belas kasih Yesus melepaskan mereka. Tapi efek sampingnya dapat kita imajinasikan, para setan yang pindah ke babi-babi akan mengakibatkan kerugian tertentu bagi pemiliknya. Maka meskipun Yesus telah memberikan kelegaan bagi dua orang di sana, namun ada hal yang lebih mereka pentingkan sehingga mereka tidak menerima kehadiran-Nya.
Seandainya para penjaga babi tidak menceritakan, sama halnya dengan konten kreator itu juga tidak banyak bicara, semua akan tenang tanpa keributan. Tidak selalu keributan itu buruk, sesungguhnya hanya perlu dimaknai sebagai suatu proses yang diperlukan untuk kebaikan. Kita bisa merenungkan : “Apakah ada bagian hidupku yang tampak kacau dan memalukan? Apakah aku mengabaikannya ataukah menyadarinya sebagai suatu proses yang memang harus dijalani?”.
Mari kita selalu bersama Yesus memaknai semua yang terjadi, bukan mengusir Dia untuk pergi. (AS).
Tuhan Yesus, mampukan aku memaknai setiap peristiwa dalam hidupku.
No responses yet