Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Selasa, 30 Juni 2026
Am 3:1-8; 4:11-12
Mzm 5:5-8
Mat 8:23-27
Tuhan, Tolonglah…
Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” – Mat 8:25
Ada saat-saat dalam hidup ketika doa tidak lagi tersusun rapi dan panjang. Bukan karena iman kita hilang, melainkan karena kita sudah terlalu lelah. Kata-kata terasa habis, tenaga terkuras, dan yang tersisa hanyalah satu seruan sederhana di tengah tangisan kita: Tuhan, tolonglah…
Itulah yang dialami para murid dalam Injil hari ini. Mereka bukan menghadapi badai kecil. Perahu mereka terombang-ambing oleh angin ribut, air mulai masuk, dan keselamatan mereka benar- benar terancam. Mereka telah sampai pada batas kemampuan manusia. Dalam keadaan seperti itu, mereka datang kepada Yesus dan membangunkan-Nya.
Yang menarik untuk kita renungkan bukan hanya ketakutan para murid, tetapi pilihan mereka. Mereka tidak melompat keluar dari perahu. Mereka tidak melarikan diri. Mereka justru mendekat kepada Yesus. Di tengah badai dan ketakutan, mereka tahu kepada siapa mereka harus berseru. Iman dalam situasi ini bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan keberanian untuk membawa ketakutan itu kepada Yesus. Iman bukan selalu doa yang rapi dan indah, tetapi doa yang jujur.
Sering kali kita merasa bersalah ketika takut. Kita mengira iman sejati seharusnya selalu kuat dan yakin. Namun Injil hari ini mengajarkan bahwa iman juga bisa berbentuk jeritan. Jeritan yang lahir dari keputusasaan tidak ditolak oleh Yesus. Ia memang menegur para murid, tetapi Ia tidak meninggalkan mereka. Ia terlebih dahulu menenangkan badai dan tetap hadir di tengah ketakutan mereka.
Dalam hidup, ada badai yang tidak langsung reda. Ada ketakutan yang kembali datang. Namun setiap kali kita masih mampu berkata, ”Tuhan, tolonglah…”, kita sedang mengarahkan hati kita kepada pribadi yang tepat. (Ai).
Ya Tuhan, bantulah kami untuk berani berdoa dengan jujur, tanpa perlu berpura-pura untuk kuat. Bahkan ketika doa yang kami utarakan hanya tinggal satu kalimat “Tuhan, tolonglah…”
No responses yet