Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Selasa, 11 Agustus 2026
Pw St. Klara
Yeh 2:8 – 3:4
Mzm 119:14,24,72,103,111,131
Mat 18:1-5,10,12-14
Anak Kecil
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” – Mat 18:3
Seorang pematung terkenal Lee Lawrie, membuat sebuah patung perunggu gagah yang terletak di halaman Rockefeller Center di Midtown Manhattan, New York City. Proyek yang dimulai tahun 1937 itu menampilkan sosok Atlas – dewa Yunani kuno yang menopang bola dunia di atas pundaknya. Patung setinggi 14 meter dengan berat 7 ton itu jelas memberikan pesan yang kuat: tentang simbol manusia modern yang memikul dunia di pundaknya. Ia tampak kuat, menantang, dan penuh kebanggaan.
Persis di seberangnya, berdiri Gereja Katedral St. Patrick yang bercerita tentang iman dan ketekunan. Katedral ini tidak dibangun oleh orang-orang kaya, melainkan oleh imigran Irlandia yang pada saat itu tidak memiliki apa-apa kecuali mempersembahkan seluruh hati dan tenaga mereka. Di balik altar katedral itu, terletak sebuah patung kecil Kanak-Kanak Yesus yang memegang bola dunia dengan satu tangan. Ia tidak menegangkan otot, tidak berjuang, hanya memegangnya dengan kasih.
Benar-benar pemandangan yang sangat kontras. Rockefeller membangun Atlas untuk merayakan kekuatan manusia. Tetapi Gereja menjawabnya dengan lembut lewat patung kanak-kanak Yesus: “Dunia bukan di pundakmu, manusia. Dunia ada di tangan-Ku.”
Di tengah dunia yang mencari kekuasaan, yang terbesar dan terhebat, yang sering kali menghancurkan dan merugikan sesama, yang menggilas mereka yang terpinggir dan lemah – kita diingatkan kembali lewat Injil hari ini. Menjadi yang paling besar bukanlah dengan kekuasaan atau status/posisi hidup yang dimiliki, melainkan menjadi seperti seorang anak kecil yang rendah hati, yang hatinya terbuka kepada kasih dan kebaikan dan sesama. (BW).
“Marilah menjadi seperti anak kecil – dengan percaya sepenuhnya kepada Bapa dan dengan kelembutan yang diajarkan Injil” Paus Yohanes Paulus II, Pesan Hari Perdamaian Dunia 1996.
No responses yet