Renungan Katolik “Bahasa Kasih”

Senin, 10 Agustus 2026

Pesta St. Laurensius, DiakMrt.

2 Kor 9:6-10

Mzm 112:1-2,5-9

Yoh 12:24-26

Makna Hidup

Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. – Yoh 12:25

Leonardo da Vinci adalah seorang pria yang selama hidupnya menghasilkan berbagai lukisan ternama. Salah satu lukisannya adalah The Last Supper, Perjamuan Terakhir yang termasyhur. Dengan keahliannya, Leonardo dianggap sebagai salah satu “manusia renaisans” yang terbaik. Renaisans (dari bahasa Prancis: Renaissance, “kelahiran kembali”) adalah era kebangkitan ilmu pengetahuan, seni dan sastra di Eropa pada abad ke-14 hingga abad ke-17. 

Namun dibalik karya yang luar biasa, Leonardo mengalami hari-hari suram dan meratapi kenyataan bahwa ia akan mati “tanpa meninggalkan kenangan apa pun tentang dirinya dalam benak sesama”. Suatu ketika, ia berujar, “kukira selama ini aku belajar untuk hidup, tetapi kenyataannya aku sedang belajar cara untuk mati.” Leonardo lantas mengubah pandangannya tentang hidup, ia menjalaninya lebih humanis, berkarya dengan sepenuh hati, dan meletakan nilai-nilai kemanusiaan sebagai dasar, seolah jika suatu saat ia mati, ia telah meninggalkan banyak hal baik. Leonardo mungkin tidak sadar akan perkataannya, tapi ia tak sepenuhnya salah. 

Yesus dalam Injil Yohanes yang kita baca hari ini berkata, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Dia memang berbicara tentang kematian-Nya sendiri, tetapi kemudian memperluasnya untuk mencakup kita semua: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” 

Yesus melalui kematian-Nya, menawarkan kepada kita sebuah kelahiran kembali. Inilah makna “renaisans sejati”. Ia telah membuka jalan bagi kita untuk mengalami kehidupan kekal bersama Bapa. 

Maka, selayaknya kita memandang hidup ini adalah sebuah anugerah, sebuah tempat di mana cinta Kristus dipecah dan dibagi untuk sesama. (BW).

Bapa, takkan kutemukan makna dan tujuan hidup selain di dalam-Mu.

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *