“As the family goes, so goes the nation and so goes the whole world in which we live.” (St. John Paul II)
Flash back ketika saya mengikuti weekend Marriage Encounter, saya merasa bersyukur sekali atas semua yang kami alami sebagai suami istri. Setelah kembali ke rutinitas kehidupan biasa, ada kalanya kehidupan pernikahan ini kadang terasa kering kembali. Bagaimana kami mengatasinya?
Dua minggu lalu, kami akhirnya memulai mengurusi taman kami setelah pindah rumah. Betapa banyaknya ilalang yang sudah tumbuh. Mencabut ilalang mengingatkan saya untuk secara konsisten terus menyadari dan meninggalkan perilaku-perilaku saya yang kurang baik. Apabila dibiarkan, seperti ilalang, lama-lama ilalang bisa tumbuh besar, setinggi tanaman bunga lain di sebelahnya, dan ilalang tersebut malah menyerap nutrisi yang seharusnya diserap oleh tanaman bunga kami.
Minggu lalu, ketika seorang teman berkunjung ke rumah kami, ia melihat pohon pisang di taman kami yang sudah tumbuh namun sepertinya kurang nutrisi. Sekarang kami mulai memikirkan apakah tanaman buah lainnya di kebun kami sudah mempunyai cukup air dan nutrisi, misalnya pupuk. Pemilik rumah kami sebelumnya sepertinya sudah sangat pengalaman, kami memanen buah lemon satu keranjang besar beberapa waktu lalu, dan ada pohon mangga tinggi yang sedang berbunga.
Belakangan ini, dari media sosial dan dari orang-orang di sekeliling kami, saya semakin merenungkan betapa rentannya pernikahan. Di antara kenalan kami, sepertinya sudah umum ketika seseorang berpisah, mempunyai suami atau istri yang kedua. Ketika menemukan pasangan yang kedua ini, mereka sepertinya merasa berbunga-bunga lagi. Beberapa dari mereka masih berteman baik, namun memutuskan untuk berpisah. Kalau dipikir-pikir, apa yang salah?
Salah satu kemungkinan yang saya bisa bayangkan adalah mungkin, kedua pihak merasa sudah sama-sama tidak ingin berjuang untuk satu sama lain. Mungkin, seperti tanaman itu, ada hal-hal yang tidak dilakukan secara konsisten. Entah mencabuti ilalang, misalnya menyadari kesalahan atau perbuatan yang bisa melukai atau membuat kecewa pasangan, atau kurang memberikan perhatian kepada hubungan tersebut. Seperti tanaman, saya merasa bahwa nurturing a marriage butuh kedua hal ini.
Salah satu pasangan suami istri di komunitas Marriage Encounter membuat suatu aplikasi. Aplikasi untuk membantu berkomunikasi, memberi pertanyaan, menulis surat untuk pasangan, dan merencanakan waktu untuk dialog dengan pasangan 10 menit sehari. Hari ini adalah hari keempat kami mulai berusaha rutin untuk mengusahakan dan merawat kembali hubungan kami dengan menggunakan aplikasi tersebut.
Rasanya, hubungan kami sudah menjadi lebih baik lagi. Rasanya tanaman hubungan kami sudah segar kembali, setelah ilalang disekitarnya dicabut dan ia mulai disiram dan dipupuk. Kami yakin dengan mengandalkan Tuhan, dan juga dengan terus konsisten berusaha merawat hubungan ini, Tuhan bisa mengubahkan air menjadi anggur, menggantikan anggur pernikahan yang mungkin bisa habis di sepanjang perjalanan.
“On the third day there was a wedding at Cana in Galilee, and the mother of Jesus was there. Jesus also was invited to the wedding with his disciples. When the wine ran out, the mother of Jesus said to him, “They have no wine.” And Jesus said to her, “Woman, what does this have to do with me? My hour has not yet come.” His mother said to the servants, “Do whatever he tells you.” Now there were six stone water jars there for the Jewish rites of purification, each holding twenty or thirty gallons. Jesus said to the servants, “Fill the jars with water.” And they filled them up to the brim. And he said to them, “Now draw some out and take it to the master of the feast.” So they took it. When the master of the feast tasted the water now become wine, and did not know where it came from (though the servants who had drawn the water knew), the master of the feast called the bridegroom and said to him, “Everyone serves the good wine first, and when people have drunk freely, then the poor wine. But you have kept the good wine until now.” This, the first of his signs, Jesus did at Cana in Galilee, and manifested his glory. And his disciples believed in him.“
(LGA)
No responses yet