“Pray, hope, and don’t worry. Worry is useless. God is merciful and will hear your prayer.” (St. Padre Pio)
Pagi ini saya membangunkan kedua anak saya dan berkata kepada mereka dengan jujur, “I am sad.” “Kenapa, mommy?” “Karena I worry too much, jadinya malah fokus pada rasa takut alih-alih melakukan sesuatu.” Minggu ini, saya mendapat feedback dari salah satu pekerjaan yang saya lamar. Mereka bilang interview berjalan sangat baik, saya punya pengalaman yang cukup, ditambah beberapa skill teknikal yang mereka cari. Namun, mereka memutuskan untuk memberikan posisi ini ke salah seorang yang sudah bekerja di tim nya, karena ia sudah ada di dalam tim, sehingga pengetahuannya lebih baik.” Saya sangat kecewa. Sudah berbulan-bulan saya mencari pekerjaan baru dan belum mendapatkan yang baru. Saya tahu, semestinya saya bersyukur karena masih bisa mendapatkan gaji dari pekerjaan yang sekarang ketika mencari pekerjaan baru.
Worry / ketakutan dan anxiety / kekhawatiran sudah membuat saya menghabiskan waktu dengan tidak bijaksana. Saya jadi lebih banyak menghabiskan waktu di HP, melihat media sosial alih-alih terus tekun melamar pekerjaan. Pagi ini, homili dari Father Mike Schmitz tentang “Blind Spots: Worry” sudah menampar saya dengan keras. Worry itu tidak ada gunanya, seperti berusaha menyelesaikan soal matematika namun yang dilakukan adalah mengunyah permen. Worry is useless, seperti kata Padre Pio.
Worry juga adalah dosa, seperti resentment. Kalau resentment berarti menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi, worry berarti tidak percaya bahwa Tuhan akan menjadikan sesuatunya baik. Ketika Adam dan Hawa pertama kali berbuat dosa, mungkin juga ada sedikit rasa takut di situ. Takut bahwa mereka melewatkan sesuatu yang baik, takut dan tidak percaya kalau Tuhan sudah benar-benar memberikan yang terbaik untuk hidup mereka.
Karena tenggelam dalam perasaan worry, saya mengulang-ulang perasaan tersebut dan melarikan diri ke perasaan ketakutan tersebut. Pagi ini, saya membawa situasi ini ke terang. Saya memutuskan untuk mensharingkan ini bahkan ke anak-anak saya, sambil mendengarkan homili Father Mike Schmitz. Saya juga meminta bantuan kepada anak saya, kalau mereka melihat saya terlalu banyak di HP, untuk mengingatkan kepada saya komitmen yang telah saya katakan. Komitmen untuk bertindak, melalui (1) berdoa dan melakukan the right next step (melamar pekerjaan lagi), (2) hope – percaya kalau Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik, dan (3) do not worry – memutuskan untuk percaya bahwa Tuhan pasti akan membukakan jalan di waktuNya yang terbaik!
Phillipians 4:4-7 “Rejoice in the Lord always. I will say it again: Rejoice! Let your gentleness be evident to all. The Lord is near. Do not be anxious about anything, but in every situation, by prayer and petition, with thanksgiving, present your requests to God. And the peace of God, which transcends all understanding, will guard your hearts and your minds in Christ Jesus.”
(LGA)
No responses yet