Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Minggu, 25 Oktober 2026
Hari Minggu Biasa XXX
Kel 22:21-27
Mzm 18:2-4,47,51
1 Tes 1:5c-10
Mat 22:34-40
Kasih
Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. – Mat 22:37
Jawaban yang diberikan oleh Yesus pada para ahli Taurat membuat saya termenung. Dalam hukum Taurat pun, hukum yang tampaknya sederhana namun tertinggi adalah kasih. Yang menjadi refleksi saya, sudahkan saya sungguh mengasihi Tuhan dan sesama saya? Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan sesama?
Kalau hanya sekedar mengucapkan “mengasihi-Mu” atau mengasihimu tidaklah sulit. Namun apakah ucapan itu bisa terwujud dalam sikap dan perbuatan kita, hingga berani berkorban untuk yang kita kasihi itu? Jika kita sungguh mengasihi Tuhan, maka dengan rela hati kita akan mengorbankan kesenangan kita demi menyenangkan hati-Nya. Demikian juga perbuatan kita yang tulus pada sesama atas dasar kasih itu.
Kita sudah melihat dan merasakan kasih Tuhan yang begitu nyata dalam hidup kita. Yesus rela menderita hingga wafat di kayu salib demi menyelamatkan kita. Kalau direnungkan, apa yang sudah kita persembahkan untuk Yesus sebagai wujud nyata dari kasih kita pada-Nya?
Renungan reflektif ini membawa saya pada pengalaman saat liburan ke Bandung beberapa waktu yang lalu. Kebetulan saya berangkat pada hari Jumat di masa prapaskah dengan komitmet pantang daging. Namun di sudut hati ini, saya tidak ingin memaksakan diri. Apabila dalam perjalanan memang sulit menemukan menu yang tanpa daging, maka saya akan memakan apa yang tersedia. Niat saya yang setengah-setengah itu dijawab dengan kemudahan oleh Tuhan, saya selalu menemukan makanan yang tidak ada dagingnya.
Saya pun bersyukur, dan mohon rahmat supaya pantas mempersembahkan pantang hari itu pada Tuhan dengan segenap hati dan kasih pada-Nya. (Me).
Apa yang telah kulakukan untuk menunjukan kasihku pada Tuhan?
No responses yet