Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Kamis, 17 November 2016

Why 5:1-10
Mzm 149:1-6a,9b
Luk 19:41-44

AIR MATA YANG MEMURNIKAN

Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! – Luk 19:41-42a

Pada hari saya menulis renungan ini, saya baru saja membaca sebuah berita mengenai ISIS yang mengesekusi anak-anak di Irak karena bermain bola. Saya langsung terdiam dan berdoa bagi mereka yang menjadi korban pembunuhan. Saya membuat komitmen untuk mendoakan setiap orang yang mengalami musibah yang saya baca beritanya.

Saya mencoba untuk berhenti mengkritik para pelaku kejahatan atau menghakimi siapa yang salah dan berfokus pada mereka yang menjadi korban. Secara khusus apa yang dialami anak-anak di atas, betapa pada akhir hidupnya mereka diliputi ketakutan menjelang eksekusi dan penderitaan yang mereka alami pada eksekusi mereka.

Melalui doa saya, Tuhan mengajari saya untuk menangis bersama mereka dan menangisi dosa saya. Ketika dunia masih dilanda banyak penderitaan dan ketidakadilan, saya masih terus bergumul dengan dosa saya, dan setiap dosa merupakan perwujudan dari egoisme saya. Setiap kejahatan adalah buah dari tindakan mementingkan “keakuan” diri setiap orang.

Saya juga menangisi dosa saya ketika saya tidak melakukan apapun untuk mencegah kejahatan terjadi. Sebab seharusnya daripada membuang waktu saya untuk “menikmati dosa”, saya bisa mendedikasikan waktu tersebut untuk berdoa bagi dunia dan menjadi terang bagi dunia.

Air mata Tuhan sungguh suci, sanggup membersihkan dosa dunia. Semoga kita bisa menyatukan air mata kita dengan air mata Tuhan untuk menjadi sumber damai sejahtera bagi dunia dan bagi kita sendiri. (Pt)

Apakah saya bisa merasakan saat Tuhan sedang menangisi sesuatu?

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *