Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Senin, 26 Oktober 2026
Ef 4:32 – 5:8
Mzm 1:1-4,6
Luk 13:10-17
Jehovah Jireh
Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” – Luk 13:12
Coba kita bayangkan ketika ada orang mengalami tersedak. Jika sedakan yang menyumbat tenggorokan tidak segera dikeluarkan maka orang itu dapat saja gagal napas bahkan meninggal dunia. Pada Lukas 13:10-17 ini menceritakan kesigapan Allah menanggapi kesulitan kita. Meskipun hukum Taurat menyebut tidak boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat, namun Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menolong kita.
Tuhan Yesus mengesampingkan aturan adat setempat untuk menolong kita, menunjukkan bahwa kita lebih berharga dari apapun. Kebahagiaan dan keselamatan kita lebih utama daripada aturan manapun yang dapat manusia buat. Sejatinya kita juga sama dapat memperlakukan orang lain demikian. Jangan kita menahan hak yang seharusnya mereka terima, perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Tidak ada balas budi apapun yang dapat kita lakukan dihadapan-Nya selain taat pada firman-Nya. Dan, apabila hari ini doa saudara belum dijawab Tuhan bersabarlah, mungkin hal tersebut belum urgent dalam pandangan Allah. Belum waktunya untuk kita mendapatkan hal tersebut, maka jangan memaksakan keinginan kita sendiri atau bahkan mencari cara sendiri untuk mewujudkan keinginan itu, karena rancangan kita bukanlah rancangan Tuhan. Rancangan Tuhan adalah rancangan yang membawa pada kemenangan dan damai sejahtera.
Jehovah Rapha yang berarti Allah yang menyediakan, tidak hanya menyediakan kebutuhan fisik kita, melainkan juga menyediakan keselamatan dengan Ia mati di kayu salib. Ia tidak mau kita yang terkena hukuman maut tersebut, namun digantikan dengan pengorbanan-Nya. Ia juga tidak akan membiarkan umat-Nya kekurangan dan selalu memberi jalan keluar pada keadaan yang sulit.(MF).
Sudahkah saya merasakan penyediaan Allah disepanjang perjalanan hidup saya selama ini
No responses yet