Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Minggu, 05 Maret 2017

Kej 2:7-9; 3:1-7
Mzm 51:3-6,12-14,17
Rm 5:12-19
Mat 4:1-11

RAHMAT KEHIDUPAN KEKAL

..maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. – Rm 5:17‎

Sedih rasanya melihat keadaan nenek saya yang terbaring di rumah sakit tanpa mampu bergerak. Untuk bernapaspun harus dibantu alat. Ketika saya memanggil dan mencoba mengajaknya bicara, tak ada respon darinya. Sekalipun menurut perawat, otak nenek tetap berjalan dan ia tetap bisa mendengarkan saya. Itulah kesempatan terakhir saya bertemu nenek saat itu selagi saya berada di Jakarta.

Dulu saya bertanya-tanya, mengapa manusia terus bertumbuh sampai menjadi tua dan akhirnya meninggal? Seandainya kita bisa hidup bersama orang-orang yang dicintai tanpa melewati kematian, tentu tak ada perasaan kehilangan, sedih, dan kesepian. Mengapa manusia secara alami pasti mati? Seram rasanya membayangkan hal tersebut…saya tidak mau meninggal.

Tapi lewat pembelajaran, akhirnya saya sadar bahwa tubuh kita tidak abadi karena dosa. Dosa Adam dan Hawa membuat tubuh manusia mengalami kematian, karena upah dosa adalah maut. Andaikata Adam dan Hawa tidak berdosa, tentu kita masih hidup di Firdaus dengan tubuh yang tidak mati. Namun oleh karena Kristus, kita semua yang telah dibaptis dimampukan untuk hidup abadi bersama Allah setelah kematian tubuh kita. Kita tidak binasa, melainkan hidup kekal oleh karena kasih karunia. Hal ini menguatkan saya untuk terus hidup di dalam Kristus, karena ada pengharapan dan kasih yang tak berkesudahan. Kesedihan, kehilangan, kesepian hanyalah sementara saja. (Aw)

Beranikah saya menghadapi kematian? Percayakah saya akan kehidupan kekal?

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *