Beberapa hari yang lalu, saya mendengar salah satu YouTube video sharing dari Father Mike Scmithz mengenai “Give Us This Day Our Daily Bread”. Melalui pendengaran atas sharing itu, saya semakin merenungkan kalimat tersebut. Hal yang sangat relevan untuk saya adalah, seringkali saya itu maunya Tuhan tidak memberikan saya berkat untuk hanya hari ini, namun saya maunya kepastian di hari besok, seminggu ke depan, setahun ke depan, dan mungkin lebih lama lagi. Semakin lama jaminan berkat melimpah semakin baik. Namun pada kenyataannya tidak demikian.

Saat-saat dimana kita menunggu kabar yang kritis, adalah salah satu jenis waktu dimana saya merasakan hal ini. Misalnya, dulu ketika menunggu berita kemajuan operasi dan pengobatan almarhum papa. Atau ketika menunggu berita kemajuan pengobatan saudara lainnya. Rasanya memang waktu-waktu ini tidak bisa dihindari. Doa “berilah kami rejeki pada hari ini” punya makna yang lebih, agar saya meminta apa yang saya butuhkan di hari ini. Seperti ketika menunggu berita kemajuan pengobatan, saya tidak bisa mengeluh bahwa saya hanya bisa menunggu. Karena semuanya ada prosesnya. Ada waktu tunggu yang tidak bisa dipungkiri. “Berilah saya energi pada hari ini”, “berilah saya kekuatan menjalani satu hari lagi”, kira-kira demikianlah semangat dan permenungan yang mau dihayati dari doa ini.
Pagi ini saya merasa sedih sekali. Karena lagi-lagi mendapatkan rejection melamar pekerjaan yang baru. Sudah beberapa bulan saya menanti-nanti. Namun pintu Tuhan sepertinya belum terbuka. Saya bersyukur punya beberapa orang di lingkaran kenalan saya yang juga mengalami hal yang sama. Tiga orang dari mereka sekarang sudah mendapat pekerjaan baru, namun mereka juga mengalami proses yang lama. Mereka bilang ke saya “keep pushing”. “I also took time to move on every time I got rejection.” Baru kemarin ini ada juga yang mengajak saya untuk makan siang bersama seorang recruiter. Saya sangat bersyukur atas kehadiran dan semangat dari mereka, di samping keluarga dan teman-teman sel yang juga terus mendoakan.

Melalui refleksi ini, saya ingin membagikan perjuangan dan semangat saya kepada teman-teman juga yang mungkin sedang mendoakan sesuatu. “God, give us today our daily bread”. Saya berdoa agar Tuhan memberikan saya rahmat hari ini untuk mencoba lagi. Untuk melamar pekerjaan lagi. Untuk mempersiapkan interview berikutnya lagi. Untuk harapan yang baru lagi. Saya percaya, waktu Tuhan pasti yang terbaik.

Matthew 6:7-15And in praying do not heap up empty phrases as the Gentiles do; for they think that they will be heard for their many words. Do not be like them, for your Father knows what you need before you ask him. Pray then like this:
Our Father who art in heaven,Hallowed be thy name.
Thy kingdom come,Thy will be done, On earth as it is in heaven.Give us this day our daily bread;
And forgive us our debts,As we also have forgiven our debtors;And lead us not into temptation, But deliver us from evil.For if you forgive men their trespasses, your heavenly Father also will forgive you; but if you do not forgive men their trespasses, neither will your Father forgive your trespasses.”

(LGA)

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *