Minggu ini rasanya saya tidak bahagia seperti biasanya. Saya sering mengeluh, sering bertanya-tanya mengapa tentang banyak hal, sering menyalahkan orang lain. Saya jadi terlalu banyak melepaskan kepenatan saya dengan main game di HP. Saya tahu, saya tidak bisa begini terus. Saya menantang diri saya pagi ini untuk mengalihkan pelarian main game dengan membaca buku.

Saya membuka buku yang sudah lama belum saya selesaikan di playbook. Chapter baru, entah kenapa judulnya adalah “Jealousy”. Penulis buku menceritakan bahwa tantangan terbesar dalam menulis adalah iri hati dengan temannya. Dan meski rasanya tidak pernah terbersit dalam hati saya, semakin dipikir, mungkin inilah akar dari ketidakbahagiaan saya.

Iri hati melihat orang lain gajinya lebih besar, rumahnya lebih cantik, dan sebagainya. Iri hati inilah sebenarnya juga dosa yang acap kali berakar menjadi sesuatu yang sangat buruk dalam kisah-kisah Alkitab. Kain iri kepada Habel. Esau iri kepada Yakub. Saul iri kepada Daud. Dan seterusnya.

Saya diingatkan melalui salah satu video father Mike Schmitz bahwa apapun yang orang lain miliki tidak ada efeknya kepada yang saya miliki. Pemikiran ini menjadi basis yang saya berikan kepada pikiran saya bahwa tidak ada gunanya merasa iri hati karena itu tidak akan mengubah apapun.

Yang kedua dan yang terpenting, saya diajak untuk merenungkan kembali bukan saja siapa saya, namun “siapa saya di hadapan Tuhan”. MAZMUR 17:8Lindungilah aku, seperti biji mata-Mu sendiri; sembunyikanlah aku di bawah naungan sayap-Mu“. PSALM 17:8Keep me as the apple of your eye; hide me in the shadow of your wings.

Renungan ini membawa saya untuk membayangkan saya seakan domba yang hilang, dan sedang mendengarkan Yesus sedang memanggil-manggil saya untuk menemukan saya dan memanggul saya di atas punggungnya.
(LGA)

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *