Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Sabtu, 18 April 2026
Kis 6:1-7
Mzm 33:1-2,4-5,18-19
Yoh 6:16-21
Here I Am
Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” – Yoh 6:20
Awal November yang lalu, suami memberitahu bahwa bunga cicilan rumah naik cukup tinggi. Selain itu, biaya pendidikan anak-anak juga meningkat dan biaya bulanan bertambah. Sempat ada rasa khawatir, cemas dan ragu-ragu apakah kehidupan kami akan berjalan dengan baik-baik saja di saat pengeluaran meningkat drastis seperti ini. Namun di dalam doa, saya diingatkan bahwa anak Tuhan tidak pernah dibiarkan tergeletak jatuh, pun tidak pernah dibiarkan sendirian.
Di balik semua ini, saya sadar ada bagian yang harus saya lakukan, yaitu berusaha semaksimal mungkin dengan bekerja mencari penghasilan tambahan. Kemudian juga harus belajar untuk berserah diri dan bersandar kepada Tuhan dengan iman yang teguh. Saya tidak boleh menyalahkan keadaan, namun menghidupinya dengan sukacita serta mengandalkan kekuatan dari Tuhan. Saya telah berusaha dengan sekuat tenaga, dan sisanya saya serahkan kepada Tuhan.
Saya harus terus maju, tidak melarikan diri dan berjalan dalam kebenaran Firman Tuhan, sehingga tahu bahwa Tuhan ada, Tuhan hadir dan setia berada di sisiku, dan sadar bahwa Ia pasti menyertai dan akan mengulurkan tangan-Nya untuk membuka jalan bagiku.
Sebagai anak Tuhan, saya tidak boleh membiarkan kekhawatiran dan ketakutan merenggut sukacitaku, harus senantiasa bersukacita dalam menghadapi badai hidup serta berpengharapan dan bersemangat menjalani kehidupan. Dengan hidup penuh syukur, maka saya akan dapat melihat mukjizat-mukjizat kecil yang tercurah bagiku dan bagi keluargaku.
“Mereka yang selalu berlutut menghadap Tuhan, akan selalu bisa berdiri menghadapi apa pun.”-St. Theresia Lisieux- (TL).
Apakah aku membiarkan kekhawatiran menguasai diriku ataukah memusatkan pikiranku pada Tuhan?
No responses yet