Renungan Katolik “Bahasa Kasih”

Jumat, 23 Oktober 2026

Ef 4:1-6 

Mzm 24:1-6

Luk 12:54-59

Rekonsiliasi

… berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim … – Luk 12:58

Hidup adalah suatu perjalanan, yang akan mengalami pertemuan antar sesama manusia, dan kemudian terjalin relasi. Apakah ada diantara saudara yang saat ini memiliki relasi yang sedang rusak? Dan apakah saudara ingin memperbaikinya? Ataukah karena begitu menyakitkan memilih untuk diam dan menguburnya saja?

Mengampuni dan minta maaf memang dua hal yang tidak mudah, namun dapat kita lakukan jika memang ada keinginan yang kuat.

Suatu kali seorang teman bertanya kepada saya, jika dua pribadi mengalami gesekan yang cukup besar, dan kemudian mereka melakukan rekonsiliasi apakah relasi mereka akan dapat kembali seperti semula seperti saat belum terjadi pertentangan itu? Saya menjawab dengan memberikan analogi begini; seperti seorang yang putus cinta dengan pacarnya atau pasutri yang bercerai, meski setelah itu mereka dapat tetap berteman dengan baik, tapi tetap saja akan ada batasan yang dengan sendirinya terbentuk, karena luka akan meninggalkan bekas yang sewaktu-waktu dapat terpicu jika ada kejadian yang mengingatkan kembali akan luka itu meskipun sudah sembuh, dan hal itu wajar, karena manusia dikaruniai memori didalam otak. Dan kejadian yang menyakitkan biasanya tidak akan hilang dari memori manusia.

Namun, Tuhan menghendaki kita berdamai, memulihkan relasi-relasi kita yang rusak agar perjalanan hidup kita lebih ringan. Dan kelak ketika sudah tiba waktunya, dan harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita dihadapan Allah, tidak ada penyesalan.

Apakah ada yang masih merasa sulit berdamai dengan seseorang karena begitu menyakitkan? Tidak apa-apa, tapi mari teruslah berusaha melakukan pemulihan, tidak ada kata terlambat dan jangan lupa doakan hal-hal baik untuk orang yang menyakiti itu. Rahmat Allah akan selalu hadir menyertai niat baik kita. 

Dan semoga kita semua pada akhirnya nanti sungguh siap menghadap Allah, dan layak hidup disisi-Nya. Amin. (In).

Maukah aku ambil langkah untuk berdamai meski hati terasa begitu berat?

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *