Renungan Katolik “Bahasa Kasih”

Kamis, 28 Mei 2026

1 Ptr 2:2-5,9-12

Mzm 100:2-5

Mrk 10:46-52

Beriman Penuh 

Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” – Mrk 10:48

Bartimeus, seorang pengemis buta yang duduk di pinggir jalan kota Yerikho, menunjukkan sebuah kegigihan yang luar biasa. Begitu ia mendengar bahwa Yesus akan lewat, harapan yang mungkin sudah lama padam kini berkobar kembali. Ia tahu ini adalah kesempatannya. Tanpa memperdulikan status sosialnya sebagai pengemis, ia berteriak memanggil Yesus. Namun orang-orang di sekitarnya merasa terganggu. Mereka menegurnya, menyuruhnya diam, dan mungkin menganggap suaranya hanya kebisingan yang tidak penting. Namun, apakah Bartimeus menyerah karena teguran itu? Sama sekali tidak. Ia justru semakin keras berseru. Baginya, kesembuhan dan perjumpaan dengan Yesus jauh lebih penting daripada harus menuruti orang-orang yang mencoba membuatnya diam.

Apa yang dilakukan oleh Bartimeus ini sungguh menegur saya. Jujur, saya seringkali masih mudah terpengaruh, merasa takut dengan pendapat orang tentang saya, khawatir jika terlihat “berbeda” atau dianggap terlalu mencolok dengan prinsip yang saya pegang, walaupun saya tahu apa yang saya lakukan adalah hal yang benar. Belajar dari Bartimeus, saya diingatkan juga bahwa untuk mendapatkan mukjizat atau untuk mendekat pada Tuhan, terkadang saya harus berani menjadi “berisik” di tengah dunia yang menyuruh saya untuk diam. Saya harus berani menunjukkan kerinduan saya pada Tuhan, tanpa perlu merasa malu atau takut dihakimi oleh orang lain.

Hari ini, saya ingin berkomitmen untuk tidak membiarkan pendapat orang lain menjadi penghalang antara saya dan Tuhan. Saya ingin memiliki keberanian untuk tetap berseru, tetap berbuat baik, dan tetap memegang prinsip iman saya, meskipun dunia di sekitar saya mungkin tidak setuju atau merasa terganggu. Karena pada akhirnya, yang memahami kedalaman hati dan kebutuhan saya bukanlah orang banyak itu, melainkan Yesus sendiri. (Vn).

Apakah aku lebih memperdulikan pendapat manusia daripada Tuhan?

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *