Renungan Katolik “Bahasa Kasih”

Jumat, 29 Mei 2026

1 Ptr 4:7-13

Mzm 96:10-13

Mrk 11:11-26

Percayalah! 

Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. – Mrk 11:24

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menunjukkan dua tindakan, yaitu mengutuk pohon ara yang tidak berbuah dan menyucikan Bait Allah. Kedua tindakan ini sebenarnya adalah pesan bagi kehidupan batin kita. Pohon ara yang tidak berbuah melambangkan hidup yang tampak religius secara luar namun kering di dalam sehingga tidak berbuah, sementara Bait Allah yang dikotori melambangkan hati yang dipenuhi nafsu keduniawian.

Yesus menegaskan bahwa iman bukan sekadar “berharap”, tetapi sebuah keyakinan total. Iman yang mampu memindahkan gunung adalah iman yang tidak disisipi kebimbangan. Saat kita berdoa, Yesus meminta kita untuk memiliki sikap batin seolah-olah permohonan itu sudah dikabulkan. 

Saya sadari, terkadang doa saya masih sekedar “untung-untungan” tanpa iman yang kuat. Saya tidak mau berharap banyak karena khawatir kecewa jika permintaan saya tidak dikabulkan. Padahal, yang Ia minta adalah kepercayaan penuh kepada-Nya bahwa Ia akan mengabulkan permohonan saya asalkan sesuai dengan kehendak-Nya.

Selain itu, Yesus menambahkan syarat yang sering kali menjadi batu sandungan bagi kita, yaitu pengampunan. Bait Allah disebut sebagai “Rumah Doa”, namun sering kali hati kita (Bait Allah yang sejati) menjadi sarang dendam dan kepahitan. Bacaan hari ini mengajak kita menyadari bahwa doa adalah relasi, bagaimana kita bisa mendekat kepada Tuhan yang Maha Pengampun, jika hati kita masih menutup pintu maaf bagi sesama? Seringkali yang menghalangi mukjizat terjadi bukanlah kurangnya kuasa Tuhan, melainkan kerasnya hati kita untuk melepaskan pengampunan.

Jika kita ingin doanya berbuah, bersihkan hati dari segala kotoran, benci dan dendam. Ungkapkan kedamaian dan kasih di dalam hati kita dalam tindakan pengampunan. (Vn).

Apakah dalam doa aku sudah berserah penuh kepada Tuhan?

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *