Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Selasa, 08 Agustus 2017

Bil 12:1-13
Mzm 51:3-7,12-13
Mat 15:1-2,10-14

NAJISKAH SAYA?

Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang. – Mat 15:11

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, najis berarti: (1) kotor yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah; (2) kotoran manusia; (3) jijik.

Kebersihan jasmani sangat dihargai dan diterapkan di negeri-negeri yang disebut dalam Alkitab. Imam-imam Mesir mandi dua kali tiap hari, dan dua kali tiap malam. Dalam menghampiri dan berjumpa dengan Allah, kebersihan (termasuk jasmani) merupakan hal yang sangat penting. Hukum Taurat mengadakan perbedaan yang jelas antara bersih dan kotor, kudus dan tidak kudus, najis dan tidak najis. Hal-hal yang najis menurut adat istiadat waktu itu adalah menyentuh mayat, orang yang sakit kusta, mengeluarkan lelehan (yang dihubungkan dengan proses melahirkan), makan makanan tertentu dan cacat tubuh.

Yesus datang ke dunia dan mengubah makna dari najis. Ia membiarkan tubuh-Nya dijamah oleh perempuan yang sakit pendarahan (Mrk 5:25-34). Ia menyentuh dan menyembuhkan orang sakit kusta (Luk 5:12-16). Ia menyentuh mayat untuk membangkitkannya (Luk 7:14). Ia memperbolehkan manusia makan apa saja (tentu saja yang sehat). Semua yang masuk ke dalam perut atau yang dimakan adalah baik dan tidak najis tetapi yang ke luar dari dalam hati berupa omongan kasar, hinaan, pikiran jahat, kebencian, perzinahan, dan penipuan adalah najis.

Marilah kita merenungkan, apakah kita sering melakukan hal-hal itu? Mungkin kita tidak berkata kasar secara lisan, tapi kita menulis hinaan lewat sosmed. Marilah bertobat dan memperbaiki diri agar kita selalu kudus di hadapan-Nya. (Yo)

Ya Roh Kudus, bimbinglah saya untuk tidak berbuat hal-hal yang najis.

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *