Beberapa minggu lalu, di masa Prapaskah, saya pergi ke mesin ATM pada malam hari untuk menyetor uang. Di sana ada seorang pria yang sudah cukup tua sedang menyetor banyak koin. Terlihat ia mulai panik ketika melihat orang mulai mengantri. Di belakang saya ada seorang ibu dan anak perempuannya yang masih kecil. Semakin banyak orang datang, pria itu semakin gugup, hingga koin-koinnya jatuh berhamburan dan kartunya tertelan mesin ATM.

Saat itu, di hati saya sebenarnya ada dorongan untuk menolong. Namun entah mengapa, saya ragu dan justru sibuk melihat handphone. Sementara ibu dan anak kecil itu langsung bergerak membantu memungut koin-koin yang berserakan. Ketika saya akhirnya ingin menolong, bapak itu sudah pergi dengan wajah penuh frustrasi.

Malam itu saya merasa ditegur Tuhan. Betapa mudahnya saya melayani di gereja dan komunitas, tetapi ketika kasih itu diminta hadir di jalanan, kepada orang asing, saya justru diam. Saya langsung teringat perumpamaan Orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37). Mereka yang dianggap religius justru lewat begitu saja, sedangkan orang Samaria berhenti dan tergerak oleh belas kasih.

Malam itu, saya belajar untuk terus punya rasa peka dan kesiapan untuk mengasihi orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan sudah mengasihi saya terlebih dahulu tanpa syarat dan tanpa batas.

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh 13:34-35) (IVO)

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *