Renungan Katolik “Bahasa Kasih”

Minggu, 6 September 2026

Hari Minggu Biasa XXIII 

Hari Minggu Kitab Suci Nasional

Yeh 33:7-9

Mzm 95:1-2,6-9

Rm 13:8-10

Mat 18:15-20

Teguran Kasih

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga… Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” – Mat 18:18,20

Pernahkah kita menghadapi seseorang yang sulit sekali dinasihati? Apa pun yang kita sampaikan selalu ada bantahan dan alasan untuk menolak. Situasi seperti ini sering membuat kita lelah dan ingin menyerah. Namun, Sabda Tuhan mengingatkan bahwa kita tetap dipanggil untuk menasihati dengan kasih. Jika seseorang tetap menolak, maka tanggung jawab kita sudah kita jalankan, dan selebihnya kita serahkan kepada Tuhan.

Menegur sesama yang berbuat salah adalah bagian dari panggilan kita sebagai anak-anak Allah. Namun, hal ini harus dilakukan dengan bijaksana. Yesus Kristus mengajarkan agar kita menegur dengan kasih, bukan dengan sikap menghakimi. Kita perlu memohon hikmat Tuhan agar kata-kata kita tidak melukai, melainkan membangun. Jangan sampai kita merasa diri paling benar, karena sering kali orang yang bersalah pun sudah bergumul dengan hatinya sendiri.

Selain itu, Tuhan juga mengajarkan pentingnya kesatuan dalam doa. Ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya, Ia hadir di tengah-tengah mereka. 

Ini bisa kita hayati dalam keluarga, tempat di mana kita saling mendukung, berdoa bersama, dan mencari kehendak Tuhan. Apa yang kita miliki hari ini bisa jadi merupakan buah dari doa yang kita panjatkan dengan iman. Tuhan setia pada janji-Nya. 

Karena itu, marilah kita belajar menasihati dengan kasih, berdoa dengan kesatuan hati, dan melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan, kita tanggalkan ego yang menghalangi kita sejalan dengan-Nya. Dengan demikian, kita semakin bertumbuh dalam iman dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. (MF).

Apakah aku menasihati sesama dengan kasih, atau dengan sikap merasa diri paling benar?

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *