Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Jumat, 26 Juni 2026
2 Raj 25:1-12
Mzm 137:1-6
Mat 8:1-4
Kusta = Pendosa?
Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata:“Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” – Mat 8:2
Kisah penyembuhan orang sakit kusta dalam Injil selalu menyentuh hati, karena penderitaan yang dialami orang ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh seluruh dimensi hidupnya. Penyakit kusta membuat seseorang harus menanggung rasa sakit pada tubuhnya. Namun lebih dari itu, ia juga mengalami penderitaan sosial yang sangat berat.
Orang kusta disingkirkan dari masyarakat, dijauhkan dari keluarga, dan dianggap najis. Martabatnya direndahkan. Ia harus memberi tanda kehadirannya dengan lonceng atau teriakan agar orang lain menjauh. Rambutnya dibiarkan terurai sebagai tanda kenajisan. Ia hidup dalam kesepian dan penolakan. Bahkan, pada masa itu, penyakit kusta sering dipandang sebagai kutukan dari Allah. Seolah-olah penderitaan yang ia tanggung belum cukup, ia masih harus memikul beban rasa bersalah dan stigma rohani.
Namun di tengah kondisi yang demikian, orang sakit kusta ini datang kepada Yesus. Ia tidak menuntut, juga tidak memaksa. Dengan penuh kerendahan hati ia bersujud dan berkata, “Jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Ia percaya bukan hanya pada kuasa Yesus, tetapi juga pada kehendak-Nya yang penuh kasih.
Kisah ini mengajak kita bercermin pada diri sendiri. Kusta juga bisa hadir dalam hidup kita dalam bentuk dosa, luka batin, kelemahan, dan penderitaan yang membuat kita merasa tidak layak, tersingkir, atau jauh dari Tuhan. Namun Yesus tidak menjauh dari kita. Ia selalu bersedia menjamah dan memulihkan, asal kita datang kepada-Nya dengan iman dan kerendahan hati.
Ketika kita mengalami pemulihan dari Tuhan, hidup kita pun dipanggil untuk menjadi kesaksian. Kasih dan kuasa Allah yang kita alami hendaknya terpancar dalam sikap, perkataan, dan tindakan kita kepada sesama. (AA).
Tuhan, hanya kepada-Mulah aku memohon dan berserah.
No responses yet