Tujuh hari terakhir ini saya sungguh merasakan berkat Tuhan yang tidak pernah berhenti mengalir.
Akhir pekan lalu, kami kedatangan seorang hamba Tuhan yang membawakan seminar Basic Christian Maturity. Salah satu sesinya adalah “Overcoming the Flesh”, yang mengingatkan kami untuk belajar mengatasi keinginan daging dan semakin menyerahkan hidup kepada Tuhan.
Saya pikir semuanya akan berhenti sampai di situ. Ternyata Tuhan punya rencana lain. Hari Senin, dalam misa harian, bacaan Injil berbicara tentang seorang pemuda yang diminta Yesus untuk menjual seluruh hartanya. Romo menjelaskan bahwa “harta” bukan hanya soal materi, tetapi juga segala sesuatu yang sulit kita lepaskan seperti kekhawatiran, keterikatan, ego, dan keinginan untuk mengendalikan hidup sendiri.
Keesokan harinya, Injil kembali berbicara tentang seekor unta yang lebih mudah masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga. Romo mengingatkan bahwa terkadang kita membawa terlalu banyak “beban” dalam hidup sehingga sulit untuk datang kepada Tuhan.
Saat itu saya tersadar: Tuhan sedang berbicara kepada saya. Apa yang masih saya genggam dan belum saya serahkan kepada-Nya? Tanpa sadar, masa depan anak-anak adalah salah satu hal yang sering kali ingin saya kendalikan.
Mungkin Tuhan sedang mengajarkan saya bahwa untuk semakin dekat kepada-Nya, saya tidak perlu membawa lebih banyak. Saya justru perlu belajar melepaskan, berlutut, dan berserah.
Amsal 3:5 – “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (ANT)

No responses yet